Millennial, Masih Pentingkah Membaca?

Pernahkah teman-teman merasakan ketika mengerjakan tugas, membuat sebuah karya tulis, atau ingin membangun sebuah argumen logis, tetapi teman-teman sulit untuk memulai atau mewujudkan hal tersebut karena kurangnya mempunyai wawasan yang cukup luas? Kemudian, sedikitnya kosa kata yang ada dalam pikiran, sehingga teman-teman merasa sukar untuk mencurahkan apa yang ada dalam kepala ini?

Apa penyebab itu semua? salah satu faktornya itu ialah kurangnya kita membudayakan membaca, kurangnya kita untuk menyentuh buku-buku, dan bahan bacaan semacamnya.

Ada dua fakta yang mengungkapkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Fakta pertama, pada 2016, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebut Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, yakni peringkat 60 dari 61 negara. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatikan hanya 0,001%, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Fakta kedua, lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi Indonesia menduduki peringkat ke-5 dunia dalam hal kecerewetan di media sosial. Jakarta lah kota paling cerewet di dunia maya dengan aktivitas kicauan dari akun Twitter melebihi Tokyo dan Newyork. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah Lembaga independent di Paris.

Memang kita hidup di zaman yang dimana alat teknologi itu telah mengimbangi kehidupan sehari-hari. Salah satunya gadget adalah hal yang utama sekali bagi masing-masing orang. Sehingga waktu luang yang kita punya cenderung di isi dengan hiburan ketimbang membaca. Dan inilah disebut dengan generasi millenial, yang mana generasi ini tumbuh menjadi para pengguna teknologi modern berkat dukungan dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Generasi millenial ini juga dikenal dengan istilah generasi Y yaitu generasi yang lahir pada periode 1981-an hingga awal tahun 2000-an.

Jadi, sekarang bukan hal yang asing lagi bagi kita jika menemui seseorang di ruang tunggu, di restoran ataupun mahasiswa di ruang kelas tengah asyik dengan gadget-nya masing-masing.

Seiring dengan pergeseran manusia era modern, dalam hal membaca, buku bukan lagi satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan, buku sudah mulai jarang dilirik oleh masyarakat. Terlebih kecepatan untuk mengakses informasi dari berbagai media semakin mudah. Namun kita mengetahui tak semua orang memanfaatkan gadget-nya untuk hal positif demikian bukan?

Sementara itu, masyarakat sekarang cenderung lebih kepada membaca suatu bacaan hanya dilihat dari judulnya saja tanpa membaca isi dari keseluruhannya. Padahal membaca pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan yang digunakan untuk menambah informasi, meningkatkan pengetahuan, serta wawasan pembaca.

Nah, apa sisi negatif akibat rendahnya minat baca di era digital ini? Yakni, oknum-oknum tertentu akan berhilir kepada budaya copy paste. Era digital akan memudahkan mereka untuk melakukan penjiplakan atau plagiat. Kalau sudah seperti ini, dimana letak orisinalitas ide-ide kita, Millennial?

Selain itu, mudahnya kita menilai sesuatu hal dan berkomentar di sosial media tanpa memahami secara keseluruhan permasalahan yang ada. Padahal ketikan jari dan ucapan kita di sosial media sangat berpengaruh baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Untuk itu, kita sebagai generasi Y yang masih berjiwa muda serta menjadi ujung tombak suatu bangsa, Mulailah tumbuhkan niat membaca dimulai dari diri kita sendiri. Jika ingin menjadi manusia yang cerdas, mulailah untuk meningkatkan budaya membaca. Semakin sering kita membaca, semakin kaya kosa kata kita, juga semakin kita mengetahui akan banyak hal.

Bagi teman-teman inilah tips-tips berdasarkan pengalamanku untuk menumbuhkan minat baca:

  • Mulailah dari diri sendiri, kemudian lingkungan sekitar, terutama di lingkungan keluarga. Buku merupakan salah satu syarat mutlak yang diperlukan untuk pengembangan minat dan pengembangan pengetahuan, Semoga dengan meningkatnya budaya membaca akan membawa dampak positif bagi kita sendiri dan kemajuan martabat bangsa Indonesia.
  • Hal yang terpenting, temukan motivasimu kenapa ingin membaca buku, bisa untuk hiburan, kebutuhan menambah wawasan, panduan memperbaiki kebiasan, dan sebagainya.
  • Awali membaca dengan buku yang memiliki sedikit volume, artikel-artikel pendek, atau membaca buku-buku yang bersifat non-ilmiah
  • Berusaha menyediakan waktu untuk memilih dan membaca buku bacaan yang baik.
  • Mengontrol penggunaan media elektronik dan media online. Memang hal lumrah bagi kita ketika melaksanakan aktivitas yang begitu sibuk kemudian kita menyempatkan waktu untuk refreshing, cek sosial media, bermain game, menonton nextflix dan sebagainya. Namun, perlunya kita mengontrol dan membatasi waktu untuk penggunaan alat tersebut sehingga waktu tidak tersita begitu lama.
  • Beberapa media konvensional seperti buku, majalah, dan surat kabar sudah tersedia dalam bentuk digital yang dapat dibaca dari berbagai perangkat, seperti, smartphone, komputer, maupun laptop. Di era modern, membaca dapat dilakukan seperti “multitasking” pada rutinitas kegiatan sehari-hari kita. Bisa dikatakan lebih efisien dan efektif.

Perlu ditegaskan lagi, terlihat bahwa begitu besar dampak positif yang kita mencintai dan mengembangkan budaya membaca. Namun sebaliknya, tak lepas dari dampak buruk ketika kita mengasingkan diri dari aktivitas membaca itu sendiri. Dengan demikian, mulailah tekankan pada diri sendiri bahwa membaca adalah salah satu kebutuhan primer kita.

kita adalah apa yang kita baca, atau kiasan lainnya kita adalah apa yang kita baca dan tulis.

(Yolla Yulianda)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *